Bersuara Demi Kebenaran

Posted by Jama!ca - - 0 komentar

*) Vincent
PENDIDIKAN, begitu indahnya kalimat ini, begitu dalamnya esensi kalimat ini yang di dalamnya terdapat sebuah kalimat sakti yaitu ‘ILMU’. Sehingga setiap orang menginginkannya, menggilainya, mencarinya hingga timbul peribahasa konservatif “carilah ilmu sampai negeri Cina”. Paradigma pendidikan hari ini adalah suatu senjata bertempur yang harus dimiliki seseorang saat kita berhadapan dengan dunia nyata, tembok-tembok besar korporasi, birokrasi, dan segala bentuk entitas sosial lainnya.

Ujung dari pendidikan adalah menciptakan ilmuwan yang awalnya adalah intelektual personal. Fungsi dari intelektual ini ialah untuk menanamkan homogenitas dan kesadaran akan fungsi ke dalam diri kelompok sosial yang menjadi induknya. Fungsi tersebut bergerak melampaui medan ekonomi dan mencakup level sosial dan politik. Akan tetapi para intelektual suka beranggapan diri mereka independen dan otonom. Sehingga mereka tidak pernah sadar akan adanya fakta bahwa mereka memiliki kaitan dengan kelompok sosial tertentu di mana mereka menjadi pembawa suaranya.

Birokrasi pendidikan dan peraturan perundang-undangan hari ini mengarahkan jalur hidup Intelektual secara kontinyuitas. Intelektual hari ini diarahkan untuk menjadi budak-budak pasar. Bagaimana tidak menjadi budak, jika pendidikan hanya sebagai usaha untuk mencocokkan apa yang menjadi kebutuhan industri untuk disesuaikan dengan kurikulum. Kita lihat sebagai contoh, jika ilmu ekonomi hanya terus menerus bicara tentang angka dan ilmu hukum hanya berkutat pada pasal-pasal maka yang lahir adalah seseorang intelektual dan ilmuwan berhati Apatis. Mereka akan melihat kemiskinan hanya dari batangan grafik dan menilai keadilan hanya dari apa yang menjadi ketetapan pengadilan.

Penghkhianatan seorang intelektual tidak diawali dari keputusannya untuk menjadi budak kekuasaan, melainkan paradigma hidupnya yang selalu meyakini bahwa prinsip-prinsip pasar adalah yang terbaik. Intelektual jenis ini adalah intelektual yang masih dipeluk oleh budaya jahilliyah. Jahilliyah disini bukan sebagai istilah yang merujuk pada Agama, tapi keadaan sosial di mana manusia ditelantarkan nilai-nilai kemanusiaannya dan digantikan dengan tata nilai materialistis yang berbentuk emas dan uang.

Akan tetapi uang tak bisa menggantikan persahabatan tetapi uang bisa menimbulkan persahabatan. Setiap orang punya harga, jadi semua orang dalam lingkungan kegiatan seperti ini bisa dibeli oleh apa yang disebut dengan materi. Persahabatanlah yang akan membawa pemahaman akan arti karakter kehidupan dan perjuangan sosial. Di masa-masa awal pembentukan karakter manusia, seseorang akan dibentuk oleh lingkungannya. Pada lingkungan tersebut mereka akan mendapat deskripsi mengenai realitas sosial yang akan dihadapi nantinya. Bersamaan dengan itu perjumpaan dengan orang lain akan membentuk pemahaman diri seseorang akan sebuah kenyataan pada hidup yang sebenarnya.

Tapi pada akhirnya persahabatan itu akan dihancurkan secara destruktif oleh kekuasaan. Kekuasaanlah yang kemudian membawa malapetaka serta hancurnya persahabatan. Hampir semua intelektual mulai menyandingkan kekuasaan dengan praktek politik yang keji dan menindas. Kekuasaan yang memisahkan dan mengaburkan batas antara kepentingan pribadi dan publik. Kekuasaan yang kemudian membawa kesengsaraan yang dalam dan mengerikan

Membayangkan musibah yang menimpa negara Indonesia, kita seperti ditarik dalam lubang besar tanpa dasar. Malapetaka apapun yang menimpa rakyat tetap saja negara yang berkelit jika dimintai tanggung jawab. Tugas negara saat ini hanyalah membentangkan kewajiban, dan selanjutnya wewenang negara hanya bisa menarik pajak, memeras rakyat dan menjerumuskan kedaulatan negara berada ditangan intervensi Bangsa-bangsa asing penindas yang selalu kita “banggakan itu”. Kondisi rusak ini diperantarai oleh sifat-sifat bobrok lembaga-lembaga negara yang tak berhenti menciptakan kesengsaraan melalui kebijakan-kebijakan yang hanya memihak sekelompok elit pendukung. Parlemen kita yang hanya bisa tidur diruang sidang dan menggilai lobi-lobi busuk

Pada akhirnya kekuasaan yang sangat tragis ini memerlukan tangan-tangan para ilmuwan dan intelektual yang ideal yang mampu merangkul semua golongan entah apapun keyakinan ideologi dan agamanya, bukan hanya kelompoknya saja. Bagaimana kesatuan itu bisa didapat. Jawablah dengan intuisi kita.

Mari maju dan berpikir bagi kalian semua yang merasa dirinya kaum terpelajar yang pernah menikmati indahnya dunia pendidikan, mahasiswa dan yang pernah menjadi mahasiswa!!, nenek moyang kita menantikan kesejahteraan fundamental bagi seluruh rakyat Indonesia! Yang nanti akan kita turunkan pada anak dan cucu kita kelak.

Long Live Indonesia. God will Bless up What are we Needed with Praying, Reading and Learning.

*) Salah seorang Aktivis dan Juga Alumni Fakultas Hukum Universitas Trisakti

Leave a Reply

TINGGALKAN PESAN